Jenis-Jenis Penelitian Menurut Para Ahli

Jenis-jenis penelitian terbagi atas 3 kelompok, yakni penelitian berdasarkan pendekatan, penelitian berdasarkan fungsi, dan jenis penelitian berdasarkan tujuan.

Berikut ini pembagian dan ulasan lengkap jenis-jenis penelitian.

1. Jenis-jenis Penelitian Berdasarkan Pendekatan

Berdasarkan pendekatan, secara garis besar dibedakan dua jenis penelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Keduanya memiliki asumsi, karakteristik, dan prosedur penelitian yang berbeda (Sugiyono, 2005).

a. Asumsi tentang Realita

Penelitian kuantitatif didasarkan atas konsep positivism yang bertolak dari asumsi bahwa realita bersifat tunggal, faced, stabil, lepas dari kepercayaan dan perasaan perasaan individual. Realita terdiri atas bagian dan unsur yang terpisah satu sama lain dan dapat diukur dengan menggunakan instrumen.

Penelitian kualitatif didasari oleh konsep konstruktivisme, yang memiliki pandangan bahwa realita bersifat jamak, menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisah. Realita bersifat terbuka, kontekstual, secara sosial meliputi persepsi dan pandangan pandangan individu dan kolektif, diteliti dengan menggunakan manusia sebagai instrumen.

b. Tujuan Penelitian

Penelitian kuantitatif bertujuan mencari hubungan dan menjelaskan sebab sebab perubahan dalam fakta-fakta sosial yang terukur.

Penelitian kualitatif lebih diarahkan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari perspektif partisipan. Ini diperoleh melalui pengamatan partisipatif dalam kehidupan orang-orang yang menjadi partisipan.

c. Metode dan Proses Penelitian

Penelitian kuantitatif memiliki serangkaian langkah-langkah atau prosedur baku yang menjadi pegangan para peneliti. Penelitian kualitatif menggunakan strategi dan prosedur penelitian yang sangat fleksibel.

Penelitian kualitatif menggunakan rancangan penelitian terbuka (emergent design) yang disempurnakan selama pengumpulan data. Penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian tertutup, sudah tersusun sempurna sejak awal.

d. Kajian Khas

Penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian eksperimental atau korelasional sebagai kajian khasnya (protypical studies) untuk mengurangi kekeliruan, bias, variabel variabel ekstraneus. Penelitian kualitatif menggunakan kajian etnografis untuk memahami keragaman perspektif dalam situasi yang diteliti, sebagai ciri khasnya.

Dalam penelitian kuantitatif bias dan subjektivitas sangat dihindari, sedang dalam penelitian kualitatif hal-hal subjektif termasuk yang diperhitungkan dalam pengumpulan dan analisis data.

e. Peranan Peneliti

Dalam penelitian kuantitatif peneliti terlepas dari objek yang diteliti, malah dicegah jangan sampai ada hubungan atau pengaruh dari peneliti. Dalam penelitian kualitatif peneliti lebur (immersed) dengan situasi yang diteliti.

Peneliti adalah pengumpul data, orang yang ahli dan memiliki kesiapan penuh untuk memahami situasi, ia peneliti sekaligus sebagai instrumen. Penelitian kualitatif disebut juga “penelitian subjektif” (disciplined subjectivity) atau “penelitian reflektif” (reflexivity), peneliti melakukan pengujian sendiri secara kritis (critical self examination) selama proses penelitian.

f. Pentingnya Konteks dalam Penelitian

Penelitian kualitatif sebaliknya meyakini pengaruh situasi terha dap hal yang dicermati. Seorang peneliti sosial tidak akan dapat memahami perilaku manusia tanpa memahami kerangka kehidupan dari situasi di mana orang-orang itu berada.

Mereka berpikir, berperasaan dan berbuat dalam konteks kerangka kehidupannya. Penelitian kualitatif mengembangkan generalisasi dalam kesatuan konteks. Penelitian kuantitatif dan kualitatif mempunyai asumsi dan pijakan-pijakan filosofis dan konsep yang berbeda. Beberapa peneliti memandang keduanya merupakan dua ekstrem yang sangat populer.

Dewasa ini beberapa ahli mempunyai pandangan lain, bahwa keduanya bukan mustahil untuk bisa dipertemukan bahkan disatukan. Perbedaan antara kedua pendekatan bukan hal yang absolut.

Para peneliti berpengalaman dapat memadukan kedua pendekatan tersebut, yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif untuk meneliti sesuatu masalah penelitian (Sugiyono, 2005).

2. Jenis-jenis Penelitian Berdasarkan Fungsinya

Secara umum penelitian mempunyai dua fungsi utama, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki praktik. Pernyataan sederhana ini banyak mengundang pertanyaan. Apakah penelitian dapat mengembangkan batang ilmu? Bagaimana mungkin pengetahuan ilmiah yang bersifat tidak praktis dapat memperbaiki praktik teknologi informasi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan hal baru, selalu muncul terhadap fungsi penelitian. Pemahaman tentang bagaimana penelitian berperan dalam mengembangkan pengetahuan dan memperbaiki praktik teknologi informasi dikaitkan dengan perbedaan jenis-jenis penelitian berkenaan dengan fungsinya.

Secara umum dan mendasar dapat dibedakan tiga jenis penelitian, yaitu penelitian dasar atau basic research, penelitian terapan atau applied research dan penelitian evaluasi atau evaluative research (Suwarsih, 2006).

Penelitian dasar mempunyai andil yang sangat besar dalam mengembangkan batang ilmu pengetahuan atau “a scientific body of know ledge”. Generalisasi merupakan perluasan temuan suatu penelitian sebagai pengetahuan bagi populasi dan situasi lain.

Temuan-temuan penelitian dasar dapat memperkaya teori. Penelitian terapan dan evaluatif ditujukan untuk meneliti praktik, meneliti penerapan teori atau mengevaluasi pelaksanaan program dan kegiatan. Hasil-hasil penelitian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki praktik pendidikan.

Penelitian Dasar

Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian murni (pure research) atau penelitian pokok (fundamental research), diarahkan pada pengujian teori, dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa menghubungkan hasilnya untuk kepentingan praktik.

Jenis penelitian ini memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan dan pengujian teori teori. Bertolak dari suatu teori, prinsip dasar atau generalisasi, penelitian dasar diarahkan untuk mengetahui, menjelaskan dan memprediksi fenomena fenomena alam dan sosial.

Teori bisa didukung atau tidak didukung oleh pengalaman. Teori yang didukung oleh kenyataan-kenyataan empiris disebut hukum ilmu (scientihc law).

Hukum ilmiah merupakan suatu generalisasi yang dapat menjelaskan kasus kasus individual. Dalam generalisasi terkandung abstraksi yang merupakan salah satu kekuatan dari ilmu, dan abstraksi ini ditarik dari kenyataan-kenyataan sehari hari.

Penelitian dasar tidak diarahkan untuk memecahkan masalah masalah sosial. Para ilmuwan berperan mengembangkan pengetahuan dan tidak perlu selalu memiliki implikasi praktis.

Hasil-hasil penelitian dasar memengaruhi kehidupan praktis setelah periode waktu tertentu, sebab pengetahuan baru akan memberikan tantangan terhadap nilai dan dogma dogma yang telah terbentuk.

Pengetahuan baru secara tidak langsung akan memengaruhi pemikiran dan persepsi orang, yang akibatnya bisa memengaruhi atau tidak memengaruhi perbuatan.

Tujuan penelitian dasar adalah: pertama, menambah pengetahuan kita dengan prinsip-prinsip dasar dan hukum-hukum ilmiah, dan kedua, meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah.

Penelitian Terapan

Penelitian terapan (applied research) berkenaan dengan kenyataan-kenyataan praktis, penerapan, dan pengembangan pengetahuan yang dihasilkan oleh penelitian dasar dalam kehidupan nyata.

Penelitian dasar berfungsi menghasilkan pengetahuan untuk mencari solusi tentang masalah-masalah umum, penelitian terapan berfungsi mencari solusi tentang masalah-masalah dalam bidang tertentu.

Jenis penelitian ini menguji manfaat dari teori teori ilmiah, mengetahui hubungan empiris dan analitis dalam bidang bidang tertentu. Implikasi dari penelitian terapan dinyatakan dalam rumusan yang bersifat umum, bukan rekomendasi yang merupakan tindakan langsung.

Penelitian terapan seperti halnya penelitian dasar bersifat abstrak dan umum dalam bidang tertentu, menggunakan bahasa yang lazim dalam bidang tersebut. Penelitian ini difokuskan pada pengetahuan teoretis dan praktis dalam bidang tertentu, bukan pengetahuan yang bersifat universal. Hasil penelitian terapan menambah pengetahuan yang berbasis penelitian dalam bidang bidang tertentu.

Dampak dari penelitian terapan terasa setelah periode waktu tertentu. Setelah sejumlah hasil studi dipublikasi kan dan dibicarakan dalam periode waktu tertentu, pengetahuan tersebut akan memengaruhi cara berpikir dan persepsi para praktisi.

Penelitian terapan mendorong penelitian lebih lanjut, menyarankan teori dan praktik baru serta mendorong pengembangan metodologi.

Penelitian Evaluasi

Penelitian evaluasi (evaluation research) difokuskan pada suatu kegiatan dalam suatu unit (site) tertentu. Kegiatan tersebut dapat berbentuk program, proses ataupun hasil kerja, sedangkan unit dapat be rupa tempat, organisasi, ataupun lembaga.

Jenis penelitian ini dapat menilai manfaat atau kegunaan, sumbangan dan kelayakan dari sesuatu kegiatan dalam satu unit. Apakah suatu kegiatan, program atau pekerjaan memberikan manfaat, sumbangan atau hasil seperti yang diharapkan?

Apakah sesuatu kegiatan, program atau pekerjaan layak dilihat dari segi biaya, biaya pengembangan, implementasi dan penyebaran, biaya untuk bahan bahan, tempat, pengembangan staf, dukungan masyarakat.

Penelitian evaluasi berbeda dengan evaluasi formal. Evaluasi formal bisa dilakukan oleh para peneliti atau pelaksana dalam bidangnya, tidak membutuhkan latihan latihan khusus. Untuk dapat melakukan penelitian evaluasi membutuhkan latihan khusus dalam beberapa disiplin ilmu, metodologi dan keterampilan berhubungan dan komunikasi secara interpersonal.

Penelitian evaluasi yang bersifat komprehensif membutuhkan data kuantitatif dan kualitatif dari beberapa studi terkait yang dilaksanakan dalam berbagai tahapan kegiatan. Pelaksanaan penelitian evaluasi membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa praktis sesuai dengan situasi yang diteliti, tetapi juga terfokus pada segi segi yang berarti bagi para penentu kebijakan.

Penelitian evaluasi membantu para pimpinan untuk menentukan kebijakan. Hasil hasil penelitian evaluasi kurang bersifat generalisasi, sebab evaluasi lebih terkait dengan kegiatan yang berlangsung dalam unit tertentu. Penelitian evaluasi dapat menambah pengetahuan tentang kegiatan tertentu, dan dapat mendorong penelitian atau pengembangan lebih lanjut.

Sejumlah penelitian evaluasi dalam kegiatan sejenis yang dilaksanakan dalam unit unit yang berbeda dapat menambah pengetahuan dalam bidang aplikatif.

Ada dua jenis penelitian evaluasi, yaitu penelitian tindakan (action research) dan penelitian kebijakan (policy study). Penelitian tindakan dilakukan oleh para pelaksana untuk memecahkan masalah yang dihadapi atau memperbaiki suatu pelaksanaan suatu kegiatan. Guru melakukan penelitian tindakan untuk memecahkan masalah atau meningkatkan program pengajarannya (Lexi Moleong, 2004).

Para petugas pemasaran melakukan penelitian tindakan untuk me mecahkan masalah yang memperbaiki layanan pemasaran. Penelitian tindakan yang dewasa ini banyak dilakukan adalah penelitian tindakan kolaboratif (collaborative action research).

Dalam penelitian ini para pelaksana bekerja sama dengan konsultan atau peneliti luar untuk meran cang dan melaksanakan penelitiannya. Penelitian tindakan menekan kan, baik pada proses maupun hasil dari perubahan perubahan strategi dan teknik yang digunakan.

Analisis kebijakan mengevaluasi kebijakan pemerintah untuk membantu para penentu kebijakan memberi rekomendasi rekomendasi yang praktis. Penelitian kebijakan memfokuskan kajiannya pada kebijakan yang lalu atau yang berlaku sekarang, dan diarahkan untuk: (1) meneliti formulasi kebijakan, sasarannya siap siap saja, (2) menguji pelaksanaan suatu program terkait dengan sesuatu kebijakan, (3) menguji keefektifan dan keefisienan kebijakan.

McMillan dan Schumacher (2001) membedakan penelitian dasar, terapan, dan evaluasi berdasar kan bidang penelitian, tujuan, tingkat generalisasi dan penggunaan hasilnya. Perbedaan perbedaan tersebut digambarkan dalam tabel di bawah ini.

Perbedaan penelitian dasar, terapan, dan evaluasi
Perbedaan penelitian dasar, terapan, dan evaluasi

3. Jenis-jenis Penelitian Berdasarkan Tujuannya

Selain berdasarkan pendekatan dan fungsinya, jenis penelitian juga dapat dibedakan berdasarkan tujuannya. Berdasarkan tujuan dibedakan antara penelitian deskriptif, prediktif, eksplanatif, penelitian eksperimen, penelitian ex post facto, penelitian partisipasi, dan penelitian pengembangan.

Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif (descriptive research) ditujukan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya. Dalam studi ini para peneliti tidak melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan-perlakuan tertentu terhadap objek penelitian, semua kegiatan atau peristiwa berjalan seperti apa adanya.

Penelitian deskriptif dapat berkenaan dengan kasus-kasus tertentu atau sesuatu populasi yang cukup luas. Dalam penelitian deskriptif dapat digunakan pendekatan kuantitatif, pendekatan kualitatif, penggambaran keadaan secara naratif kualitatif.

Jenis penelitian deskriptif dapat dilakukan pada saat ini atau dalam kurun waktu yang singkat, tetapi dapat juga dilakukan dalam waktu yang cukup panjang. Penelitian yang berlangsung saat ini disebut penelitian deskriptif, sedang penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu yang panjang disebut penelitian longitudinal.

Penelitian Prediktif

Penelitian prediktif (predictive research). Studi ini ditujukan untuk memprediksi atau memperkirakan apa yang akan terjadi atau berlangsung pada saat yang akan datang berdasarkan hasil analisis keadaan saat ini. Penelitian deskriptif dilakukan melalui penelitian yang bersifat korelasional (correlational studies) dan kecenderungan (trend studies).

Melalui penelitian korelasional, selain dapat dicari korelasi antara dua atau lebih dari dua variabel juga dapat dihitung regresinya. Melalui perhitungan regresi ini, baik regresi parsial maupun multiple dapat diprediksi dampak atau kontribusi dari satu atau lebih dari satu variabel terhadap variabel lainnya.

Jenis penelitian prediktif juga dapat dilakukan melalui studi kecenderungan. Dengan melihat perkembangan selama jangka waktu tertentu, pada saat ini atau saat yang lalu dapat dilihat kecenderungannya pada masa yang akan datang.

Prediksi tentang jumlah penduduk lima atau sepuluh tahun yang akan datang bisa dihitung berdasarkan perkembangan penduduk selama lima sampai sepuluh tahun yang lalu.

Penelitian Eksplanatif

Penelitian eksplanatori dilakukan ketika belum ada atau belum banyak penelitian dilakukan terhadap masalah yang bersangkutan. Contohnya yang sudah dilakukan oleh Machfoedz, Mas’ud berjudul Survey Minat Mahasiswa untuk Mengikuti ujian TOEFL di Raharja.

Penelitian eksplanatif (explanative research) ditujukan untuk memberikan penjelasan tentang hubungan antara fenomena atau variabel. Dalam kehidupan kita menghadapi banyak hal, fakta, kegiatan, peristiwa, perkembangan, konflik, dan lain sebagainya, yang dalam penelitian kita sebut sebagai variabel.

Variabel dalam teknologi informasi bisa berupa dosen mengajar, membimbing, mengevaluasi, mahasiswa belajar, mengerjakan tugas, bolos, lulus ujian, buku kurang, kelas sempit, penguasaan teknologi informasi, penggunaan internet, dan lain sebagainya.

Pada suatu saat mungkin kita memandang variabel-variabel tersebut tidak punya arti apa-apa, tetapi pada saat lain kita melihatnya sebagai hal yang membingungkan, tidak jelas atau semrawut. Jenis penelitian eksplanatif mencoba mencari kejelasan hubungan antara hal tersebut.

Hubungan tersebut bisa berbentuk hubungan korelasional atau saling hubungan, sumbangan atau kontribusi satu variabel terhadap variabel lainnya ataupun hubungan sebab akibat. Hubungan-hubungan tersebut dikaji dalam penelitian korelasional, dan penelitian eksperimental.

Hubungan juga dapat dilihat dari perbedaan yang melatarbelakanginya, yang dapat diungkap melalui penelitian kausal komparatif.

Penelitian Eksperimen

Penelitian eksperimen merupakan satu satunya metode penelitian yang benar benar dapat menguji hipotesis mengenai hubungan sebab akibat.

Selanjutnya Gay (1998) mengatakan bahwa metode eksperimen dapat mewakili pendekatan yang paling sahih dalam memecahkan masalah, baik secara praktis maupun secara teori. Di pihak lain Donald Ary (2004) menambahkan bahwa umumnya penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang paling tangguh (sophisticated) dalam pengujian hipotesis.

Mill mengekspresikan metode eksperimen dalam bahasa logis yang disebutnya sebagai perbedaan (method of difference). Ini berarti bahwa pengaruh variabel tunggal dapat diterapkan pada suatu keadaan yang dapat ditaksir.

Dalam penelitian ini, paling sedikit dapat dilakukan dalam satu kondisi yang dapat dimanipulasikan, sementara kondisi lain dianggap konstan dan kemudian pengaruh perbedaan kondisi atau variabel tersebut dapat diukur.

Penelitian Ex Post Facto

Ex post facto berarti setelah kejadian. Secara sederhana, dalam penelitian ex post facto, peneliti menyelidiki permasalahan dengan mempelajari atau meninjau variabel variabel. Variabel terikat dalam penelitian seperti ini segera dapat diamati dan persoalan utama peneliti tersebut.

Kerlinger (2002) mendefinisikan ex post facto sebagai “pencarian empirik yang sistematik dalam ilmuwan tidak dapat mengontrol langsung variabel bebas karena peristiwanya telah terjadi atau karena menurut sifatnya tidak dapat dimanipulasi.

Kesimpulan-kesimpulan tentang hubungan antara variabel dilakukan, tanpa interferensi secara langsung sesuai dengan variasi variabel bebas dan variabel terikat”.

Gay (2002) mengatakan bahwa dalam jenis penelitian ini, peneliti berusaha untuk menentukan sebab, atau alasan adanya perbedaan dalam tingkah laku atau status kelompok individu.

Dalam artian, peneliti mengamati bahwa kelompok kelompok yang berbeda pada beberapa variabel dan kemudian ia berusaha untuk mengidentifikasi faktor utama penyebab perbedaan tersebut.

Penelitian Partisipatori

Bonnie I. Cain, penulis buku Parsticz’patory Research: Research with Historical Consciousness, mengatakan bahwa definisi yang semakin luas diketahui tentang penelitian partisipatori adalah dalam istilah yang berciri negatif dan juga dalam tindakan atau praktik yang ingin kita hindari atau yang ingin diatasi.

Metodologi dan definisi tersebut belum demikian jelas siapa pencetusnya. Beberapa ahli menyarankan bahwa lebih berguna melihat penelitian partisipatori sebagai masalah yang ditujukan untuk mengumpulkan pengetahuan baru dengan orang-orang (sebagai partisipan) yang mampu menetapkan pengetahuan tersebut.

Penelitian dan Pengembangan

Metode penelitian dan pengembangan atau dalam istilah bahasa Inggrisnya Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.

Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut (Putra, 2011). Jadi penelitian dan pengembangan bersifat longitudinal.

Penelitian Hibah Bersaing ini (didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi), adalah penelitian yang menghasilkan produk, sehingga metode yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan.

Metode penelitian dan pengembangan telah banyak digunakan pada bidang-bidang Ilmu Alam dan Teknik serta ilmu-ilmu Teknologi Informasi. Hampir semua produk teknologi diproduksi dan dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan.

Penelitian dan pengembangan pada industri merupakan ujung tombak dari suatu industri dalam menghasilkan produk-produk baru yang dihasilkan pasar.

Hampir 4% biaya yang digunakan untuk penelitian dan pengembangan, bahkan untuk industri farmasi dan komputer lebih dari 4%. Dalam bidang sosial dan pendidikan peranan penelitian ini masih sangat kecil.

Dalam pemilihan metodologi penelitian, selain mempertimbangkan metodologi terdahulu yang digunakan dalam penelitian sejenis, juga akan sangat dipengaruhi dengan batasan sumber daya-yaitu waktu dan dana-yang dimiliki oleh peneliti.

Kompromi di antaranya akan menghasilkan sesuatu antara yang ideal dan yang praktis. Metodologi sangat penting dalam sebuah penelitian karena metodologi akan digunakan sebagai (Semiawan, 2007):

  1. Aturan komunikasi. Metodologi merupakan alat komunikasi sesama peneliti untuk berbagi pengalaman dalam melakukan penelitian. Ketika peneliti menuliskan metodologi yang digunakan secara jelas, dapat diakses oleh peneliti lain, maka keunggulan replikasi penelitian dan validasi temuan penelitian dapat dilakukan.
  2. Aturan penalaran. Meskipun observasi empiris sangat fundamental dalam penelitian ilmiah, namun fakta, data dan bukti yang ditemukan tidak bisa berbicara dengan cara sendirinya. Karenanya dalam hal ini dibutuhkan logika untuk menarik inferensi yang reliabel berdasar fakta hasil observasi.
  3. Aturan intersubjektivitas. Karena kemungkinan adanya subjektivitas terlibat dalam penelitian, maka dengan metodologi yang jelas, validasi bisa dilakukan oleh peneliti lain untuk menjamin objektivitas empiris. Hal ini berarti ada hubungan saling bergantung antara objektivitas dan validasi.
  4. Dasar pembenaran menuntut pengaturan kerja ilmiah yang diarahkan pada perolehan derajat kepastian sebesar mungkin. Pernyataan harus didasarkan pada pemahaman apriori dan yang juga didasarkan atas hasil kajian empirik, dua cara berpikir ilmiah yang harus dapat digunakan dalam penelitian ilmiah.
  5. Sistematis menunjuk pada susunan pengetahuan yang didasarkan pada penyelidikan ilmiah yang terencana, teratur, dan terarah; sistemis menunjuk pada keterhubungannya yang merupakan suatu kebulatan melalui komparasi dan generalisasi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal yang berhubungan dengan metode penelitian, yaitu:

  • Metodologi penelitian dapat diartikan sebagai kegiatan yang secara sistematis, direncanakan oleh para peneliti untuk memecahkan permasalahan yang hidup dan berguna bagi masyarakat, maupun bagi peneliti itu sendiri.
  • Metodologi penelitian merupakan salah satu alat yang sangat andal guna mengembangkan dan menerangkan cakrawala ilmu pengetahuan manusia.
  • Metode ilmiah merupakan kombinasi logis pemikiran deduktif dan induktif untuk menguasai ilmu pengetahuan.

Sumber:
Sudaryono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group

Tinggalkan komentar